Prasasti Digital Terpasang di 100 Pura, Dimulai dari Puri Gerana: Lestarikan Sejarah Lewat Teknologi
Admin
Content Creator
Di tengah pesatnya kemajuan teknologi digital, upaya pelestarian sejarah dan budaya Bali tak tertinggal oleh arus zaman. Salah satu langkah nyatanya adalah pemasangan Prasasti Digital di 100 pura, yang diinisiasi dan disponsori oleh Angga Puri Gerana. Pemasangan perdana dimulai di wilayah Gerana dan kini telah merambah ke puluhan pura lainnya di Bali.
Inisiatif ini menjadi jembatan antara kearifan lokal dan teknologi modern. Dengan adanya Prasasti Digital, masyarakat kini bisa mengakses sejarah pura, silsilah, dan informasi penting lainnya hanya melalui gawai di genggaman tangan.
Mengenalkan Sejarah Melalui QR Code
Menurut Anak Agung Gede Ardana, Direktur Utama PT Ngantre Indonesia Persada, Prasasti Digital merupakan rekaman digital berisi catatan peristiwa, sejarah, atau aktivitas masa lalu yang disimpan dalam format modern. Hal ini disampaikannya dalam kegiatan Sosialisasi Prasasti Digital di Warung Padi Seleranusantara, Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan, pada Minggu, 16 Maret 2025.
"Keunggulan Prasasti Digital adalah kemudahan akses. Siapa pun yang memiliki ponsel hanya perlu memindai QR Code untuk membuka informasi lengkap, foto, video, atau rekaman audio terkait sejarah pura," jelas Ardana di hadapan para tokoh masyarakat.
Berbeda dengan prasasti tradisional yang terbuat dari lontar, tembaga, atau batu biasa, Prasasti Digital diukir pada batu granit sehingga lebih kokoh, tahan cuaca, dan awet dalam jangka panjang. Informasi di dalamnya pun dapat diperbaharui sesuai perkembangan zaman.
"Setiap dokumen, foto, video, hingga surat elektronik dapat diarsipkan di Prasasti Digital. Ini membuatnya tidak hanya bertahan lama, tapi juga relevan dengan generasi penerus," tambahnya.
Menjaga Warisan Leluhur, Menyongsong Masa Depan
Sementara itu, Anak Agung Ngurah Gede, salah satu tokoh Puri Gerana, menekankan bahwa keberadaan Prasasti Digital bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi juga sarana edukasi bagi generasi muda.

"Dalam konteks sejarah, Prasasti Digital bisa menjadi sumber pengetahuan berharga. Anak-anak muda kita perlu paham siapa leluhurnya, bagaimana tradisi berjalan, dan apa makna pura di kehidupan masyarakat Bali. Kalau tidak tahu sejarah, sulit meneruskan cita-cita leluhur dengan benar," tegasnya.
Dengan adanya teknologi ini, diharapkan semangat pelestarian adat, budaya, dan spiritualitas tetap hidup di tengah modernitas yang terus bergerak cepat. Tradisi lisan yang dulu hanya diwariskan lewat cerita kini terdokumentasi dengan rapi dan dapat diakses kapan saja.
Sosialisasi Hangat dan Partisipatif
Kegiatan sosialisasi yang dihadiri para tokoh masyarakat Desa Gadungan dan Gadung Sari berlangsung hangat dan interaktif. Diskusi dipandu oleh I Wayan Swarbegiri, yang mengajak peserta untuk menggali lebih dalam manfaat dan peluang pengembangan Prasasti Digital di desa masing-masing.
Masyarakat pun tampak antusias mendengar pemaparan kedua tokoh Puri Gerana, yang dengan penuh semangat mendorong partisipasi warga untuk menjaga dan memperkaya konten sejarah pura di era digital.
Dengan terpasangnya 100 Prasasti Digital, Angga Puri Gerana berharap gerakan ini akan terus berkembang, bukan hanya di pura-pura besar, tetapi juga di pura keluarga, merajan, hingga situs-situs budaya lainnya. Dengan begitu, Bali akan semakin siap menghadapi era digital tanpa kehilangan jati diri dan warisan adiluhung leluhur.
Sumber : Newsyess
Artikel Lainnya
Pura Nagasari Banjar Kutuh Sayan Kini Dilengkapi QR Code, Dorong Digitalisasi Data Pura Adat
Digitalisasi Data Pura Adat
Belanda Pulangkan 828 Artefak Milik Indonesia
Belanda Pulangkan 828 Artefak Milik Indonesia
Warga Malang Dihebohkan Temuan Struktur Diduga Candi Era Mpu Sindok
Penemuan Candi
Tinjau Gelaran Pesta Kesenian Bali 2025, Wapres Ajak Wisatawan Terus Ramaikan Bali
Pesta Kesenian Bali